Ajakan Tersenyum untuk Bapak Ibu SBA*

*yang dimaksud adalah Pegawai Sub Bagian Akademik Kampus
bureaucrat_2-275x300

sumber gambar: bobmaconbusiness.com

La Gioconda, yang berarti wanita riang, adalah nama lain dari lukisan Mona Lisa. Sebuah karya seni yang sangat mungkin paling banyak  dilihat orang se-dunia. Museum Louvre Paris, tempat dari lukisan asli Mona Lisa dipajang, setiap hari didatangi ribuan pengunjung. Meskipun hanya dapat dilihat dari jarak sekitar dua meter, karya seni ini tetap membuat pengunjung terpesona karena keindahan lukisan, dan tentu saja karena senyum yang melegenda itu.

Senyum Mona Lisa sangat mempesona, penuh misteri pada saat yang sama. Memancing begitu banyak interpretasi. Ketika perang dunia ke-II terdapat sebuah sandi La Joconde a le sourire (Mona Lisa masih tersenyum) yang merujuk pada makna bahwa sejumlah barang seni koleksi negara tuntas diamankan. Seperti menandakan berharganya senyum Mona Lisa, disaat —mungkin— orang-orang eropa pada masa perang berfoto dengan wajah paling muram. Sebagai bentuk berkabung atas kehidupan sendiri.

Tidak salah rasanya Leornado da Vinci sangat menyayangi lukisan Mona Lisa, hal itu terbukti  ketika hijrah ke Perancis pada 1516 lukisan tersebut ikut dibawa. “I love those who can smile in trouble”, ungkap da Vinci. Seolah lukisan Mona Lisa menjadi representasi dari budaya senyum barat, yang sempat terpaksa hilang karena perang.

Dan sekarang berbahagialah! Perang Dunia telah lama usai. Pengunjung Mona Lisa pun dapat ber-selfie sambil tersenyum  -meskipun harus berjarak sekitar 2 meter- di depan lukisan. Paris, sebuah kota yang pernah hancur luluh-lantah akibat perang, dikenal juga sebagai kota yang romantis. Henry van Dyke, dalam puisinya yang berjudul American For Me, berujar; “And Paris is a woman’s town, with flowers in her hair”. Kota yang sangat memikat siapa saja dan membuatnya tenggelam di sana. Meskipun begitu, seindah-indahnya negeri lain, tiada yang lebih indah dari tanah kelahiran. Seperti dalam larik akhir puisi  Henry van Dyke juga, “there is no place like home.” Dan Bandung adalah rumahku, juga kita.

Konon, orang-orang Eropa yang bermukim di Bandung pada zaman kolonial Belanda,  memberikan julukan Paris Van Java untuk Bandung karena keindahan alam dan kesejukan udaranya. Meskipun Bandung tak punya Mona Lisa. Yang ada hanyalah sebuah kalimat “Bumi Pasundan Lahir Ketika Tuhan Sedang Tersenyum” diungkapkan oleh M.A.W Brouwer, seorang Belanda yang sangat mencintai Indonesia (terutama Bandung). Siapa yang mengira, seorang Brouwer, yang dikenal karena tulisan-tulisan sarkastik-nya dapat menciptakan ungkapan yang begitu puitis tentang tanah Pasundan.

Ada yang bilang kata itu tercipta karena keindahan dan kesuburan alam. Tetapi lebih jauh dari itu, yaitu keramahan masyarakatnya. Orang Sunda diyakini memiliki jati diri kasundaan sebagai jalan menuju keutamaan hidup.  Jati diri tersebut adalah cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), singer (mawas diri), dan pinter (cerdas). Ditambah lagi karakteristik orang Sunda yang jenaka. Bila membaca khasanah sastra Sunda, maka kita akan menemukan tokoh lucu nan humoris. Seperti Si Kabayan, Ua Lengser, atau Cepot dalam cerita pewayangan. “Punten, urang Bandung mah reseup heureuy”, begitulah anekdot dalam masyarakat.

Hal demikian bertranformasi pada setiap laku-lampah orang sunda. Bukan hal yang aneh, ketika majalah Time, pada tahun 1990-an, menjadikan Kota Bandung sebagai salah satu kota paling aman di dunia. Meskipun, jika ber-refleksi pada situasi Bandung saat ini; hari-hari itu telah berlalu. Namun tak perlu khawatir tentang keadaan Bandung saat ini. Setidaknya, ketika Kang Emil memproklamirkan Index of Happiness, saat itulah kebijakan politik berubah arah. Dari politik machiavellian menjadi politik eudaimonia aristoteles, yaitu alat untuk mencapai kebahagian masyarakat. Kebahagiaan masyarakat yang tidak hanya datang dari taman-taman kota, tapi juga datang dari pelayanan birokrasi yang ramah.

Meskipun Bandung pada saat ini heurin ku tangtung. Menyebabkan tata nilai dan aspek perilaku (behavior) budaya sunda mulai luntur. Tapi romantisme transenden kebudayaan masa lalu akan selalu ada. Jika orang sunda mendengar kata Padjadjaran; maka di benaknya terlintas sebuah mitos tentang Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi, sosok seorang Raja yang adil dan bijaksana. Prabu Siliwangi dihormati sebagai pemimpin ideal masyarakat Sunda, terlepas dari perdebatan historis mengenai kerajaan Padjadjaran.

Kata Padjadjaran mengandung makna mendalam bagi masyarakat Sunda. Hal itu terlihat bagaimana Padjadjaran jamak digunakan dalam soalan nama-menamai; dari nama jalan, nama tempat, nama organisasi, nama sekolah sampai perguruan tinggi. Pemberian nama tersebut dapat berarti sebagai bentuk penghormatan atau juga sebagai doa. Untuk yang terakhir ini, jika kita percaya, maka di sana ada sebuah pengharapan. Di jalan Dipati Ukur Bandung, terdapat sebuah perguruan tinggi bernama Padjadjaran.

Saya tidak dapat mengambil kesimpulan apakah pemberian nama ini adalah sebuah sebuah penghormatan atau pengharapan. Mengingat letak perguruan tinggi tersebut berada di tatar Sunda, di mana sangat kental dengan mitos Kerajaan Padjadjaran. Pengandaian orang sunda mengenai mitos Padjadjaran selalu berorientasi pada hal-hal yang membahagiakan. Baiklah, anggap saja itu sebuah penghormatan, sekaligus doa.

Kata Padjadjaran berarti “berdiri sejajar” atau “imbangan”. Yang —mungkin— selaras dengan semangat rektor pertama Unpad, agar lulusannya selalu sejajar dengan perjuangan rakyat. Dan juga ada harapan agar suasana di kampus Unpad seperti mitos tentang suasana kerajaan Padjadjaran seperti digambarkan di sajak-sajak, dongeng atau cerita rakyat; Dipenuhi dengan kebahagiaan, kenyamanan, ramah-tamah penduduknya.

Benar, jika ada orang yang diterima di Unpad, mungkin ia merasa bahagia karena diterima di salah satu Perguruan Tinggi favorit. Apalagi jika orang tersebut diterima di Fakultas Hukum Unpad, selain merasa bahagia, tentunya ia merasa nyaman tinggal di tengah-tengah Kota Bandung. Tatkala helatan Penerimaan Mahasiswa Baru, mahasiswa baru diajak berkenalan dengan gerakan 3S, yaitu Senyum, Sapa dan Salam. Dengan tujuan agar selaras dengan nilai-nilai tanah Sunda itu sendiri (baca: budaya penuh senyum dan ramah-tamah). Tentu saja demi kenyamanan seluruh keluarga besar Unpad, mulai dari mahasiswa, pendidik, sampai karyawan.

Dalam kajian Psikologi dikenal istilah rapport, secara sederhana berarti prosedur untuk membangun keakraban dalam proses komunikasi. Gerakan 3S itulah langkah awal untuk menghasilkan good rapport. Karena pesan bahagia (happy message) di otak kita akan bekerja, jika menerima stimulus membahagiakan seperti senyuman dan sapaan. Syukurnya, dalam relasi hubungan sesama mahasiswa hal tersebut terjadi. Barangkali patut juga bersedih, ada sebuah tempat, di Fakultas Hukum Unpad, yang untuk tersenyum pun sulit. Dan mungkin jika Pablo Neruda pernah datang ke ruangan tersebut, maka ia akan berpikir kembali dalam menciptakan puisi yang berjudul Tawa-mu. Mungkin saja puisinya berjudul; ketusmu!

Tempat tersebut adalah ruangan SBA FH unpad, jika masuk kesana, maka yang terjadi otak kita tidak menerima pesan bahagia (happy message), melainkan pesan sedih (sad message). Silahkan dicoba! Untuk itulah menjadi beralasan bagi kita meletakkan tanda tanya pada eksistensi keramahan pegawai SBA di kampus FH unpad. Ya, ini baru soal keramahan, jika rasa-rasanya terlalu mewah untuk bicara profesionalitas kinerja. Tanpa bermaksud mengeneralisir, para bapak-ibu SBA yang terhormat mungkin merasa memiliki wewenang lebih kepada mahasiswa.

Tapi di kampus, tiada tempat bagi segenggam feodalisme. Selamanya kampus (harus) menjadi tempat egaliter, maka istilah father knows best (Bapak lebih tahu) tidak berlaku. Kualitas diri tiap insan di Kampus, mulai dari mental hingga intelektualitas masing-masing, tidak dibentuk juga tidak (boleh) ditentukan atas relasi siapa diatas siapa. Seharusnya konsep pelayanan publik yang penuh keramaha tanpa ketus-mengetuskan tak sulit diterapkan tanah Sunda. Karena sudah melekat dengan budaya. Maka dalam bayangan saya senyum para pelayan publik di tanah Sunda tak mungkin sebuah lip service belaka, melainkan keramahan tulus dari hati.

Di sisi lain, pemahaman akan harus adanya pelayanan yang ramah dan profesional bukanlah hal yang sulit dimiliki seorang mahasiswa bukan? Saya begitu sangsi mengenai pergerakan (kita) mahasiswa jika soal kesadaran mana yang harus terwujud saja kita gagal paham. Atau barangkali banyak dari kita sudah sadar tapi tak (cukup) berani untuk berkoar. Sampai ada satu martir (berani menggunakan media sosialnya) membiarkan dirinya diserang oleh grup-permisif yang menganggap pelayanan dan keramahan adalah soal lagi capek atau bukan.

Saya teringat dengan Prof. Altbach, dalam buku Student Politics, Perspectives for the Eighties, kata beliau mahasiswa memliki kesadaran dan dorongan untuk mengubah kondisi yang ada untuk digantikan dengan situasi yang lebih memenuhi harapan. Saya yakin Prof. Altbach tidak sedang merujuk pada mahasiswa jenis kita. Ya, termasuk saya.

Difa Mprong Ghiblartar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s