Menjadi Mahasiswa

 

mahasiswa demo

sumber gambar: pekanews.com

 

Terminologi Mahasiswa memiliki banyak tafsiran. Kata tersebut akan mengundang imaji yang berbeda di masing-masing kepala, barangkali ini dikarenakan penggalan kata ‘Maha’ yang memang istimewa. Jika tulisan ini mengulas tiap tafsiran dari kata ‘Mahasiswa’, apalagi harus mengulas tafsir mana yang paling benar dan menegasikan selainnya, tentu tulisan ini memakan terlalu banyak tempat. Tapi izinkan tulisan ini jadi teman untuk anda datang pada penafsiran anda sendiri.

Tulisan ini dibuat secara sederhana, begitupun dengan analisis dan keadaan yang mendasarinya karena memang diminta untuk dibuat demikian.  Terlepas dari banyaknya teori, fakta, bahkan dogma yang dapat digunakan untuk mendasari tulisan ini, rekan-rekan cukup mencoba memahami nilai-nilai kesederhanaan yang ingin kami ungkapkan disini. Kali ini kami akan berusaha mengajak pembaca untuk memandang ‘Mahasiswa’ berdasarkan suatu hal yang tak jauh dari dalam diri Mahasiswa. Hal ini secara umum diakui di belahan dunia dan oleh pribadi manapun.

Mari kita pandang dan pahami bahwa ‘Mahasiswa’, tanpa perlu menggunakan tafsir yang berlebih-lebihan, pada hakikatnya adalah seorang Manusia. Harapannya agar tulisan ini dapat berlaku sama dan universal bagi tiap Mahasiswa yang membacanya. Manusia, yang memiliki dua aspek untuk mendasari kemanusiaannya yakni kebutuhan dan tanggung jawab.

Zoon Politcon : Social needs, Komunikasi dan Interaksi

Aristoteles dalam bukunya republica, menyatakan bahwa Manusia merupakan Zoon Politicon, yakni makhluk sosial yang senantiasa akan berinteraksi satu sama lain dan cenderung selalu hidup bermasyarakat, bahkan ada tendensi untuk tidak dapat hidup menyendiri karena Manusia memiliki naluri untuk selalu hidup berkelompok atau hidup bersama orang lain, gregariousness. Melihat fakta bahwa kondisi ketidakmampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhannya untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan baik merupakan salah satu penyebab utama dari Depresi yang sedihnya seringkali berujung pada bunuh diri[1], maka ini tidak dapat begitu saja diabaikan oleh seorang manusia.

Mahasiswa, sebagai seorang manusia, dapat memenuhi kebutuhan sosial tersebut dengan beberapa cara. Bagi mereka (Mahasiswa) yang telah memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik atau cenderung berkepribadian ekstrovert, maka hal ini tidak akan menyulitkan mereka, namun mungkin akan beda halnya dengan mereka yang tergolong introvert atau  bagian dari golongan “gak suka nyapa duluan”. Kondisi ini  sebenarnya bisa diatasi dengan banyaknya alternatif yang ditawarkan dalam lingkungan kampus, dari mulai kelompok diskusi, organisasi, kepanitiaan, dsb. Untuk lingkup Mahasiswa FH Unpad saja misalnya terdapat BEM, BPM, dan 10 UKMF belum lagi komunitas-komunitas di luar itu. Partisipasi seorang Mahasiwa dalam kegiatan-kegiatan kampus dapat memenuhi kebutuhan sosial manusia yang bersifat hakiki tersebut. Di samping kebutuhan sosial (social needs) yang terpenuhi, keikutsertaan Mahasiswa dalam kegiatan-kegiatan kampus dapat meningkatkan kualitas social skill and networking, hard skill, dan soft skill Mahasiswa.Tanpa perlu dijabarkan lebih, anda sekalian tentu dapat melakukan evaluasi mandiri terhadap mereka-mereka yang pernah melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan di Kampus. Ya, kalau belum tahu banyak-banyaklah bertanya.

Tanggung Jawab Seorang Manusia : Pengabdian

Aspek kedua yang bisa kita gunakan untuk memandang Mahasiswa sebagai Manusia adalah Tanggung Jawabnya.

Seringkali saat satu pertanyaan tentang, “mengapa Mahasiswa harus melakukan pengabdian?” [2], ditanyakan, banyak dari kita menjawab,“Tri Dharma Perguruan Tinggi kan salah satunya Pengabdian kepada Masyarakat”, bahkan ada yang benar-benar berusaha berorasi dengan lantang bahwa Pengabdian adalah janji dan kewajiban dari seorang Mahasiswa kepada Masyarakat, kepada lingkungannya. Tapi hanya sedikit yang memahami bahwa ini bukan hanya sekedar masalah Tri Dharma Perguruan Tinggi. Ini lebih dari itu, bung!

Pengabdian bukan hanya sekedar pelaksanaan kewajiban seorang Mahasiswa, jauh dari itu semua,  Pengabdian adalah tanggung jawab seorang Manusia. Tanggung jawab sosial tidak dimiliki oleh Mahasiswa sebagai konsekuensi atas Tri dharma Perguruan Tinggi yang mengikatnya, namun tanggung jawab itu sudah ada jauh sebelum titel Mahasiswa itu ada, karena memang melekat pada Manusia. Setiap manusia memiliki tanggung Jawab sosial, tinggal siapa yang mau dan bagaimana ia akan melaksanakannya. Mungkin sebagai manusia kita belum bisa mengabdi seperti dr. Lie Dharmawan yang membangun rumah sakit apung untuk daerah timur Indonesia atau Malala Yousafzai yang merupakan aktivis perempuan  bidang pendidikan di Pakistan, tapi kita bisa memulai pergerakan kecil untuk mengawali semuanya.

Kampus selama ini menyediakan wadah untuk mengabdikan diri kita, sebagai seorang manusia untuk sesama. Dengan BEM, BPM, dan 10 UKMF yang ada di Fakultas Hukum Unpad, mahasiswa diwadahi untuk melakukan pengabdian sosial baik yang bersifat vertikal, horizontal, maupun diagonal[3]. Pergerakan vertikal maksudnya adalah pergerakan mahasiswa dalam mengontrol kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh penguasa; seperti dekanat, rektorat, pemerintah daerah, bahkan pemerintah pusat. Pergerakan horizontal maksudnya adalah pergerakan yang melahirkan hal nyata di tengah masyarakat, mahasiswa dapat melakukan pemetaan masalah dan memberikan solusi kepada masyarakat sesuai dengan bidang yang dipelajari di kampus. Pergerakan diagonal maksudnya adalah pergerakan yang dilakukan untuk menempa diri di bidang keilmuan yang ditekuninya sehingga memiliki kemampuan yang dapat mendukung pergerakan vertikal dan horizontal. Output dari pergerakan diagonal biasanya berupa prestasi, seperti juara debat atau juara moot court.

Maka bagi kami, titel Mahasiswa bukanlah sebutan yang begitu saja turun dari langit. Titel Mahasiswa tidak (pantas) menyemat pada setiap manusia hanya karena alasan formal sedang menempuh pendidikan perguruan tinggi. Ia bukan sebutan. Ia perihal yang (harus) diusahakan. Titel tersebut datang dari proses menjadi. Menjadi Mahasiswa diupayakan lewat proses pemenuhan kebutuhan diri dan penunaian tanggungjawab sebagai seorang Manusia secara utuh. Tidak hanya sekedar mencari eksistensi atau melaksanakan formalitas Tri Dharma Perguruan Tinggi, tapi juga dalam hal menunaikan kebutuhan diri. Kampus menyediakan wadah untuk proses tersebut dapat berjalan, lewat kepanitiaan, organisasi, kompetisi, dsb. Silakan vonis sendiri, anda (sedang menjadi) Mahasiswa, atau bukan.


Jerina Novita E

Kama Sukarno

[1] Di Amerika Serikat, 1,3 juta orang mencoba bunuh diri karena depresi dan 400.000 diantaranya tewas. Angka ini 1,5 kali lebih banyak dari angka kematian akibat tindak kriminal. (Kompas, 17/7/2004)

[2] Kata pengabdian dapat mengacu kepada pengabdian terhadap Tuhan, Orang Tua, Agama, Masyarakat, Lingkungan, dsb. Namun, dalam konteks ini yang sedang dibicarakan adalah pengabdian kepada Masyarakat dan Lingkungannya (Social Responsibility)

[3]http://www.kompasiana.com/udineslfemipb/era-baru-sinergisasi-peran-pergerakan-mahasiswa-secara-vertikal-horizontal-diagonal_550f5a5ba33311a22dba85f0

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s