Laboratorium itu Bernama Sejarah

gambar-kartun-karikatur-pendidikan-lucu-buat-anak-kok-coba-coba

sumber gambar: gambarterbaru.com

26 Desember 2015 lalu, Indra Piliang lewat akun Twitternya https://twitter.com/IndraJPiliang menceritakan kepada dunia tentang Gajahmada dan Majapahit dari sudut pandang yang 180’ berbeda dari buku-buku sejarah sekolah (tweetnya di http://chirpstory.com/li/298031). Gajahmada yang kita (mau) tahu selama ini, rupanya jauh berbeda dari Gajahmada versi paparan Indra Piliang.

Kita yang setidaknya pernah membaca buku-buku sejarah standar (buku yang dipelajari di sekolah pada umumnya), akan memekik nyaring ketika Indra Piliang menyebutkan bahwa Gajahmada mengebiri dirinya sendiri. Kita akan mendecak gelisah ketika Indra Piliang meyebutkan bahwa maha misteri ‘Keris Empu Gandring’ belum selesai hingga masa Majapahit, bahkan sampai hari ini.

Padahal ini semua tentang sejarah.

Profesor Peter N. Stearns, seorang Guru Besar bidang Sejarah dari Universitas George Mason tak lelah bicara bagaimana sejarah amat penting[1]Beliau menganalogikan sejarah sebagai suatu ‘laboratorium’ suatu bangsa. Terkecuali anda adalah bagian dari kelompok yang percaya sudah tak perlu lagi ada entitas yang bernama bangsa dan negara, maka anda (seharusnya) selalu membutuhkan akses untuk mengelola laboratorium ini.

Sejarah terjadi di masa lalu, tentu. Masa lalu menyebabkan masa kini, dan tentunya memengaruhi masa depan. Prof. Peter N. Stearns berdalil bahwa pada pokoknya sejarah adalah tempat berisi bukti-bukti yang dapat dijadikan bahan analisis tentang bagaimana suatu masyarakat berfungsi dan bagaimana fungsi masyarakat itu menjadi suatu sistem yang mengikat tiap anggota masyarakat dalam menjalankan kehidupannya. Ia tentu dapat dijadikan bahan rujukan untuk memelajari perubahan yang pernah terjadi dan membentuk masyarakat.

Satu paragraf diatas seharusnya sudah menyadarkan anda, betapa sejarah penting. Belum? Jika belum, sila simak contoh yang diberikan oleh Peter N. Stearns tentang alkoholisme (istilah yang digunakan untuk segala masalah yang muncul akibat meminum alkohol)[2].

Ilmuwan biologi telah menemukan penemuan penting tentang suatu jenis gen dalam tubuh manusia, dimana gen tersebut ada pada sebagian dari populasi manusia. Gen ini menyebabkan manusia memiliki candu pada alkohol. Penemuan ini diharapkan dapat menyelesaikan masalah sosial dari alkoholisme.

Namun pertanyaannya, apakah penemuan ini cukup menjadi dalil satu-satunya dalam menyelesaikan masalah sosial tersebut? Bila manusia hanya menjadi objek dari ilmu alam, maka jawabannya adalah ya. Namun, manusia juga merupakan obyek dari ilmu sosial.

Konsumsi alkohol oleh manusia, merupakan suatu realitas sosial yang memiliki sejarah tersendiri. Hal ini dapat dilihat dari harga alcohol yang bervariasi dan naik-turun sepanjang masa; adanya pandangan yang berbeda-beda tentang alkohol; kebijakan pemerintah yang berbeda beda terhadap konsumsi alkohol; dan sebagainya. Di sini sejarah memiliki kontribusi besar dalam membantu kita memahami pola-pola yang ada tentang pengonsumsian alkohol sehingga dapat memberikan satu dimensi pemahaman yang berbeda tentang alkoholisme sebagai suatu masalah sosial yang berevolusi. Maka resep obat dari penyakit yang bernama alkoholisme tidak cukup hanya bersumber dari penemuan biologi namun juga harus dari analisis sejarah.

Indonesia memiliki segudang masalah: sosial; ekonomi; politik; budaya; hukum; sebut saja semuanya. Namun Indonesia nampaknya belum menganggap sejarah memiliki peran penting dalam menyelesaikan masalah-masalahnya. Lihat saja misalnya para pejabat pemerintah yang mengeluarkan pernyataan tentang kejadian G30S semacam “sudahlah, kejadian itu terjadi puluhan tahun lalu. Para pelaku dan bukti sudah musnah atau sulit ditemukan. Mari kita bermaaf-maafan, move on”.

Bagaimana dengan masyakat yang seumur hidupnya, bahkan seumur hidup anak-cucunya, dianggap pembunuh padahal tidak bersalah. Bagaimana dengan masyarakat yang kebebasan memilih jodohnya terganggu karena adat-kebiasaan untuk memilih jodoh, misalnya hubungan masyarakat Sunda dan Jawa yang keruh sejak 1000 tahun lalu. Bagaimana dengan masyarakat yang dianggap bagian dari bangsa sejak tahun 1963 (atau 1969? Atau 1945? Atau sejak masa Majapahit?) tapi mereka bingung memberi penjelasan bila ditanya apakah benar bagian dari bangsa Indonesia (ya, saya bicara tentang masyarakat Irian). Wah masih banyak lagi.

Mereka tidak paham sejarah. Boleh dikatakan mereka ini manusia tanpa empati.

Padahal sejarah menghadirkan pemahaman tentang masyarakat kepada masyarakat. Dalam konteks kebangsaan, sejarah membentuk identitas nasional yang dapat menghadirkan perasaan persatuan berdasarkan empati.

Padahal (lagi-lagi saya menggunakan kata ‘padahal’), sejarah dimasukan kedalam buku pelajaran dan dipelajari anak-anak Indonesia. Bila kodrat sejarah adalah ‘memberikan pemahaman masa lampau demi masa depan yang ideal’ dan kodrat anak-anak Indonesia adalah ‘pembentuk masa depan yang ideal’, maka bukankah kacaunya pengelolaan laboratorium sejarah merupakan sesuatu yang illogical? Maka bukankah, apa yang akan ditulis di buku pelajaran sejarah, harus ditulis dengan amat hati-hati?

Selama laboratorium yang bernama sejarah itu tidak dikelola oleh Negara dengan baik, maka Pancasila hanya suatu remnants of the past yang samar-samar, bunyinya diingat tapi maknanya dilupakan.

Kama Sukarno

[1] Essay Prof. Peter N. Stearns, Why Studies History?, 1998 Dimuat di https://www.historians.org/about-aha-and-membership/aha-history-and-archives/archives/why-study-history-(1998)

[2] Jill Littrell (2014). Understanding and Treating Alcoholism Volume I: An Empirically Based Clinician’s Handbook for the Treatment of Alcoholism:volume Ii: Biological, Psychological, and Social Aspects of Alcohol Consumption and Abuse.Hoboken: Taylor and Francis. p. 55.ISBN 9781317783145. The World Health Organization defines alcoholism as any drinking which results in problems

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s