Amerika Serikat dan Kita: Perihal Kemerdekaan dan Bentuk Negara

sumber gambar: people.hoestuffworks.com dan mannaismayaadventure.wordpress.com

Pertama, harus saya sampaikan bahwa saya bukan pakar sejarah. Basis ilmu yang saya pelajari juga bukan tentang sejarah. Saya hanyalah seorang yang awam dalam bidang ilmu sejarah, namun memiliki sepercik rasa lebih kepada sejarah. Jadi, bagi para pakar sejarah, gak usah lebay membaca tulisan orang awam ini.

Kedua, ide tulisan ini muncul karena salah seorang teman saya bertanya tentang mengapa Indonesia harus berbentuk kesatuan bukan federasi. Lebih jauh ditanyakan mengapa pada tahun 1949 Republik Indonesia Serikat tidak dapat bertahan bahkan sampai umur setahun.

Entah bagaimana, sontak muncul Amerika Serikat dalam pikiran saya. Suatu negara adidaya yang terkenal dengan sistem federasinya. Kita tahu, negara federasi adalah perserikatan negara-negara (yang selanjutnya disebut negara bagian) dan membentuk satu negara perserikatan.

Bagi sebagian pelajar muda (yang tentunya awam sejarah), membanting haluan dari suatu negara kesatuan menjadi negara federasi, terdengar sangat menggiurkan. Pertimbangan utamanya, biasanya: Indonesia adalah gugusan kepulauan yang dipisahkan peraian; dahulu terpecah dalam kerajaan-kerajaan kecil; memiliki ratusan kebudayaan dan kepercayaan yang berbeda-beda; dan semacamnya. Bukankah ide Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Maluku, Papua, Bali, Nusa Tenggara masing-masing menjadi sebuah self-governing state sangat menggiurkan? Terdengar dapat menyelesaikan masalah ekonomi-sosial-politik-budaya selama ini?

Bila kita gunakan metode perbandingan disini, antara sejarah Amerika Serikat dan sejarah Indonesia, akankah kita mendapatkan jawaban dari, apa sebenarnya landasan moril dari dibentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia? Barangkali ya, bagi kita para awam ini.

Saya akan mengajak para pembaca melakukan time and space travel lewat tulisan (atau dongeng?) ini. Melewati samudera yang menjadi pembatas antara Indonesia dengan Amerika serikat, serta melewati waktu dari 2016 ke 1945 bahkan ke 1776.

***

Pertama mari kita ulas tentang sang negeri adidaya, Amerika Serikat. Amerika Serikat menggunakan istilah ‘indian’ untuk merujuk pada penduduk asli yang awalnya mendiami benua Amerika. Setidaknya ada 562 suku yang terbagi pada penduduk asli Amerika. Mereka mendiami benua Amerika sejak 16.500 – 13.000 tahun yang lalu[1]. Mereka sudah memiliki kebudayaan berumur ribuan tahun ketika Christoper Columbus datang pada 1492.

Ketika Columbus datang, penduduk Eropa menempel sebuah label yang menutupi benua Amerika, label tersebut bertuliskan ‘New World’. Benua Amerika begitu luas, siapa yang tahu kesempatan apa saja yang mungkin disediakan oleh bumi Amerika? Bagi para penguasa (aristokrat, pengusaha, pemuka agama), Amerika adalah penambahan luas wilayah kerajaan, hasil bumi dan komoditas berlimpah yang dapat menciptakan penguasaan pasar gila-gilaan, bertambahnya umat dan wilayah kristiani. Bagi para rakyat jelata, Amerika adalah tempat baru dimana tidak ada lagi penguasa-penguasa busuk, tempat dimana kebebasan dapat diraih, tempat untuk memulai hidup baru yang lebih baik. Amerika, bagi dunia saat itu seperti mimpi. Hingga sekarang, idiom ‘the Americans dream’ masih diucap di mana-mana.

Manusia Eropa berbondong-bondong bermigrasi ke New World ini dan membentuk koloni-koloni. Berikut ini adalah peta Amerika Utara pada tahun 1750

map_03_a
sumber gambar: learner.org

Pada tahun 1765, muncul riak yang menyulut American Revolution. Koloni Inggris di Amerika menolak membayar pajak kepada Kerajaan Inggris Raya karena tidak diperbolehkan memiliki perwakilan koloni di pemerintahan Kerajaan Inggris Raya. Bermula dari kejadian tersebut, Koloni Inggris menginginkan kemerdekaan, membentuk sebuah bangsa baru. Tahun 1776, 13 koloni Inggris menyatakan kemerdekaannya lewat ‘Declaration of Independence’ dengan nama United States of America.

colonies
sumber gambar: worldatlas.com

Setelah tahun 1776, perjuangan Amerika Serikat terus dilakukan untuk menyatukan koloni-koloni lain. Koloni Mexico, Perancis, Spanyol, dan koloni lain pada akhirnya semuanya bersatu menjadi bagian dari Amerika Serikat seperti yang dapat kita lihat saat ini.

Bagaimana dengan Indonesia?

Manusia sudah hidup di kepulauan nusantara sejak sekitar 45.000 tahun lalu[2]. Peninggalan kebudayaan ditemukan di setiap pulau besar di Indonesia. Sejak tahun 300 sudah terdapat kerajaan-kerajaan kecil yang tersebar di kepulauan nusantara. Kerajaan terbesar yang pernah berkuasa adalah Majapahit yang wilayah kekuasaannya mencakup wilayah Indonesia Modern.

Orang-orang Eropa, mulai datang ke Indonesia pada abad ke 16, awalnya sebagai kongsi dagang. Komoditi utama yang dicari adalah rempah-rempah. Rempah-rempah pada masa itu tergolong langka dan amat mahal. Pada tahun 1602, Belanda mendirikan VOC (Dutch East India Company) di kepulauan Nusantara. Penghasilan VOC menjadikan Belanda sebagai salah satu penguasa dominan di Eropa. Pada tahun 1800, kongsi dagang diubah menjadi koloni. Kepulauan nusantara menjadi wilayah jajahan Belanda, dan Rakyat Nusantara Asli yang tinggal di seluruh kepulauan Nusantara tunduk pada kekuasaan Kerajaan Belanda.

Perlawanan terhadap kekuasaan belanda yang tidak menyejahterakan Rakyat Nusantara Asli berkali-kali dilakukan. Hingga tahun 1908, bentuk perlawanan terpisah-pisah di tiap daerah. Ketika tahun 1908, Budi Utomo dibentuk dan menggalang perjuangan nasional seluruh Rakyat Nusantara Asli di setiap wilayah nusantara.

Tahun 1945, Rakyat Indonesia setelah melakukan berbagai perjuangan, akhirnya mendapatkan momentum untuk mendeklarasikan kemerdekaan setelah Jepang menyerah tanpa syarat. Rakyat Indonesia menyatakan kemerdekaan atas nama seluruh penduduk asli nusantara dari bangsa asing manapun. Indonesia berkuasa atas dirinya sendiri sebagai suatu bangsa di atas tanah airnya sendiri; tidak dibawah Belanda, Portugal, Spanyol, Jepang, atau siapapun.

Tahun 1945-1949, adalah tahun mempertahankan kemerdekaan karena Belanda mengklaim bahwa Indonesia tetap bagian dari kekuasaan mereka. Hingga tahun 1949, akhirnya Indonesia diakui oleh seluruh dunia sebagai suatu negara merdeka lewat perjuangan senjata dan diplomasi yang menggetarkan dunia pada masa itu. (Indonesia adalah negara pertama yang merdeka setelah Perang Dunia II berakhir)

***

Saya sadar, ulasan singkat saya tentang Amerika Serikat dan Indonesia diatas terlalu singkat dan banyak kekurangan. Namun ada beberapa hal yang dapat ditarik untuk jadi pondasi berpikir tentang kemerdekaan kita.

Pertama, 13 koloni Inggis Raya yang menyatakan kemerdekaan pada tahun 1776, menyatakan merdeka sebagai warga negara baru di tanah air baru. Koloni pertama, Virginia, dibentuk pada tahun 1607 yang berarti selang hanya 169 tahun dengan Declaration of Independence. Penduduk asli, suku Indian, sudah hidup di tanah tersebut selama 12.000 tahun[3]. Masyarakat Eropa melakukan migrasi ke benua Amerika sejak awal abad 16, membentuk koloni yang pada awalnya masih merupakan bagian dari kekuasaan pemerintah-pemerintah eropa. Pada akhirnya, bangsa Amerika Serikat melakukan perjuangan untuk tidak lagi menjadi bagian dari kekuasaan yang ada di tempat asal. Indonesia, yang memerdekakan diri pada tahun 1945, merdeka sebagai warga negara baru di tanah air yang memang pada dasarnya telah dijadikan tempat hidup selama ribuan tahun. Penduduk Asli Indonesia sudah ribuan tahun tinggal di wilayahnya, lalu penjajah datang mengambil hak atas hidupnya dan tanah airnya. Pada akhirnya melakukan perjuangan untuk merebut kembali hak atas hidupnya dan tanah air nya.

Kedua, 13 koloni Inggris Raya yang memerdekakan diri Amerika Serikat awalnya hanya memutuskan hubungan kekuasaan dirinya atas penguasa koloni mereka, yaitu Kerajaan Inggris Raya. Namun sejak tahun 1776 perjuangan untuk menyatukan tiap koloni yang ada di dataran Amerika utara terus dilakukan. Koloni milik Perancis, Belanda, Spanyol, dan kawan-kawan terus dilakukan. Setiap koloni memiliki alasan yang berbeda-beda untuk bergabung menjadi bagian dari Amerika Serikat. Amerika Serikat yang ada sekarang tidak lahir murni karena suatu perasaan senasib. Buktinya, Canada menolak untuk menjadi bagian dari Revolusi Amerika Serikat karena rakyatnya tetap setia kepada penguasa Koloni mereka saat itu.

594638982_orig
sumber gambar: unitedstateswestwardexpansion.weebly.com

Di Indonesia, musuh rakyat hanya 1, Belanda. Penduduk asli Indonesia, merasakan penindasan dan penguasaan yang sama oleh Belanda. Hal ini lah yang melahirkan suatu romantika yang menggelora dan menjadi semangat perjuangan nasional pada periode 1908-1945 bernama nasionalisme. Suatu perasaan senasib yang tertanam dalam diseluruh penduduk asli Indonesia yang terpisahkan oleh budaya, kepercayaan, dan wilayah di seluruh Nusantara.

evolution_of_the_dutch_east_indies
sumber gambar: apwhwiki.wordpress.com

Kesimpulannya, saya pikir kedua hal tersebut menjadi landasan mengapa muncul riak kemarahan pada tahun 1949 di setiap bagian nusantara untuk menghapus RIS dan menuntut agar dibentuk kembali suatu negara kesatuan. Romantika dari sejarah kebangsaan Indonesia membentuk suatu dogma di seluruh penduduk bahwa kesejahteraan dan kegemilangan bersama hanya dapat dilakukan dengan bersatu padu, bergotong royong.

Meskipun sebelum Bangsa Eropa datang pada abad 16 Indonesia terpecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil, apa yang dilakukan penjajah setelahnya justru menyatukan masyarakat nusantara. Singkatnya barangkali dapat dikatakan, Negara Perserikatan adalah negara-negara yang memiliki kehendak untuk bersatu. Sedangkan negara kesatuan adalah suatu negara dimana rakyat memiliki kehendak untuk bersatu. Kedua hal tersebut jelas berbeda.

Penjabaran diatas bagi saya menjadi landasan moril dari kehendak Indonesia untuk menjadi suatu negara kesatuan.

Ah dan jangan lupa, pembeda utama Indonesia adalah Indonesia merdeka sebagai suatu bangsa di tanah air yang memang rumahnya, melawan satu musuh-penjarah-penindas yang sama, yang telah berkuasa selama ratusan tahun.

 Kama Sukarno

[1] Goebel, Ted; Waters, Michael R.; O’Rourke, Dennis H. (2008). “The Late Pleistocene dispersal of modern humans in the Americas” (PDF). Science 319(5869): 1497–1502. doi:10.1126/science.1153569.PMID 18339930. Retrieved 2010-02-05.

[2] Pope, GG (1988). “Recent advances in far eastern paleoanthropology”. Annual Review of Anthropology17: 43–77.doi:10.1146/annurev.an.17.100188.000355. cited inWhitten, T; Soeriaatmadja, RE; Suraya AA (1996). The Ecology of Java and Bali. Hong Kong: Periplus Editions. pp. 309–12.; Pope, GG (1983). “Evidence on the age of the Asian Hominidae”. Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America80 (16): 4988–92. doi:10.1073/pnas.80.16.4988.PMC 384173. PMID 6410399. cited in Whitten, T; Soeriaatmadja, RE; Suraya AA (1996). The Ecology of Java and Bali. Hong Kong: Periplus Editions. p. 309.;de Vos, JP; PY Sondaar (1994). “Dating hominid sites in Indonesia”. Science 266 (16): 4988–92.doi:10.1126/science.7992059. cited in Whitten, T; Soeriaatmadja, RE; Suraya AA (1996). The Ecology of Java and Bali. Hong Kong: Periplus Editions. p. 309.

[3] Wood, Karenne, ed., The Virginia Indian Heritage Trail, Charlottesville, VA: Virginia Foundation for the Humanities, 2007

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s