Hukum, Filsafat, dan Kita

socrates-death
sumber gambar: lib.sandiego.edu

Fondasi mula yang ditancapkan dalam pikiran kita (mahasiswa ilmu hukum) adalah realitas bahwa hukum bukan termasuk ihwal mudah untuk dirumuskan dalam sebuah pengertian atau definisi. Apa itu hukum, menjadi pertanyaan yang sulit dijawab. Biasanya, pendapat dari Immanuel Kant dikutip untuk mendeskripsikan kesulitan tersebut, noch suchen die juristen eine definition zu ihrem begriffe von rech. Tidak satu sarjana hukum-pun dapat memberikan pengertian hukum yang memuaskan. Pengertian atau definisi demikian terbatas untuk menggambarkan atau setidaknya mewakili apa wujud hukum yang paling mendekati utuh.

Tiap usaha dalam mengartikan hukum selalu dibenturkan pada perihal yang tercecer di sana-sini. Mengatakannya sebagai undang-undang, dengan mudah dibantah oleh aliran sejarah. Yang melihat hukum sebagai gejala. Jauh lebih dari sekedar teks yang rigid dan “mati”. Kerumitan ini malah memperkaya khazanah hukum itu sendiri. Alih-alih sarjana hukum enggan memberikan pengertian, banyak aliran hukum muncul dari pijak pertama yang berbeda dalam membatasi apa itu hukum.

Sebut saja aliran hukum alam, positivisme hukum, sociological jurisprudence. Berbagai aliran punya tujuan masing-masing. Menolak dibilang sama. Bahkan lahir dari proses dialektis saling membantah. Hukum “nyata” dapat dilihat dari tindak-laku penegaknya. Hakim, jaksa, polisi. Seperti hukum yang menjelma bagi masyarakat awam.

Ditengah sulitnya menemukan pengertian hukum yang memuaskan. Satu nosi yang sepertinya telah disepakati di FH Unpad, adalah pengertian hukum dari Mochtar Kusumaatmadja. Hukum dijabarkannya sebagai asas dan kaidah, lembaga dan proses, untuk mewujudkan hukum dalam kenyataan. Pengertian yang sangat mewah, menurut penulis.

Untuk menelisik maksud dari pengertian tersebut dapat ditempuh dengan membaca tulisan beliau sejak dekade 70an. Salah satunya, Konsep-konsep Hukum dalam Pembangunan. Terlihat unsur penyusun pengertian itu –layaknya pengertian- berusaha mengabstraksi realitas hukum yang begitu luas. Asas kaidah dianggap mewakili positivisme hukum. Sedang, lembaga dan proses menggambarkan Mazhab Sejarah. Yang mengakui bahwa hukum tak sekedar teks tetapi juga perkembangan masyarakat dari waktu ke waktu. Dan ia dianggap harus hadir mengarahkan perkembangan. Dengan era developmentalist a la Soeharto maka “perkembangan” itu seperti ditafsir tunggal sebagai pembangungan. Maka berresonansilah hukum sebagai sarana pembangunan.

Ranting yang lupa akar

Jika mendasarkan pendapat pada tipologi Aristotle, maka kita mengetahui bahwa akar dari Tree of Science adalah filsafat, termasuk hukum. Ia adalah mula dan pembuka dari perjalanan panjang berkembangnya ilmu dan pengetahuan. Dan tak henti hingga hari ini. Manusia bergumul dengan percobaan teknis yang nyata atau menempuh jalan transendental yang abstrak. Kedua jalan tersebut adalah sumber sah pengetahuan.

Peradaban berkembang berkat otak yang dipergunakan. Baik ke arah yang dikehendaki, juga bukan. Sekeping sejarah pergumulan pemikiran umat manusia dapat kita baca dalam History of Western Philosophy dari Bertrand Russel. Kita melihat bagaimana mitologi dewa-dewa Yunani dalam sajak The Odyssey milik Homer mulai ditinggalkan. Tak lagi dianggap sebagai kebenaran seperti pertama ia muncul. Filsafat alam kemudian lahir dan mengenalkan kita pada nama-nama, seperti Thales, Anaximander, hingga Democritus.

Mereka menggelitik zamannya dengan pertanyaan yang demikian mendasar. Dari mana dunia berasal. Bagaimana ia diciptakan. Semua misteri disibakkan sedikit dan perlahan. Hingga objek dari filsafat meluas seperti layaknya semesta itu sendiri.

Sebagai akar dari ilmu yang tumbuh kemudian, filsafat seharusnya ditempatkan sebagai utama untuk dipelajari. Tentu dalam pertandingan lomba lari yang wajar semua peserta mulai dari garis start. Bukan masuk ditengah jalan. Ada pepatah, untuk mengetahui sesuatu utuh maka mulailah dari awal. Dari mula ia berasal.

Tapi secara formal, pendidikan filsafat malah ditempatkan proses akhir dalam jenjang keilmuan seorang mahasiswa. Baik di dalam maupun luar negeri. Memang filsafat bukanlah perkara mudah seperti menghapal lirik lagu. Prosesnya panjang dan melelahkan. Bahkan menyakitkan bahwa sebagian kita menyematkan kata “memusingkan” pada filsafat. Tidak nyata dan mengawang. Agak lucu jika filsafat dianggap mengawang, melangit, tidak kongret. Karena secara ilmiah kita tahu ia adalah akar segala ilmu. Ia menancap ke tanah. Ia hal paling dasar.

Jostein Gaarder seorang Pengajar Filsafat di sekolah menengah Norwegia dengan manis membuka novel Sophie’s World lewat gambaran yang sangat pas tentang keengganan mempelajari filsafat. Gaarder lewat tokoh anak kecil belasan tahun bernama Sophie khatam menyentil pembaca. Gaarder sadar betul bahwa rasa ingin tahu adalah awal jalan filsafat. Setiap orang lahir ke dunia dengan rasa ingin tahu yang tidak dibuat-buat. Sangat nyata dalam kehidupan bahwa anak kecil tak pernah mudah puas dengan jawaban orang dewasa yang seringkali menanggapinya dengan asal. Rasa ingin tahu tersebutlah yang membuat peradaban manusia berkembang, sebenarnya.

Gaarder menggambarkan bayi sebagai kutu-baru-bangun yang hinggap pada tubuh kelinci. Kemudian merangkak keluar ingin tahu segalanya. Memanjati bulu-bulu kelinci dengan penuh semangat dan rasa ingin tahu. Namun seiring waktu, ia mulai menyerah. Proses itu mulai terasa membosankan, juga melelahkan. Perlahan ia kembali ke akar bulu kelinci tersebut yang hangat dan nyaman. Dengan usia yang tak lagi muda ia bertahan di zona tersebut.

Jika kita hari ini mengunjungi kantor mana pun secara acak, dan menanyai orang-orang dewasa yang bekerja disana dengan pertanyaan filosofis apa itu adil, manusia, Tuhan. Mungkin kita akan mendapatkan jawaban beragam. Baik jawaban sebagai common sense atau jawaban yang diotoritasi oleh agama tertentu yang tak berani ditentang siapa pun. Yang dapat kita temukan adalah jawaban tersebut bukanlah hasil dialektis pikirannya sendiri. Karena kebanyakan adalah kutu yang tak lagi berusaha memanjati bulu kelinci namun telah kembali tidur nyenyak di dasar bulu itu tumbuh.

Lalu bagaimana dengan hukum, dan orang-orang yang mempelajarinya. Tak benar jika ranting lupa akar. Kita perlu tahu dari mana kita berasal untuk mengetahuinya secara utuh. Sebagai pengetahuan yang purna.

 Soal-soal hari ini

Hukum yang baru muncul seiring hubungan baru muncul. Hukum hadir mengatur hal-hal diluar dirinya. Lalu menjadikan hal diluar dirinya itu sebagai hukum itu sendiri. Yang paling nyata kita melihat berbagai macam Program Kekhususan. Hukum meliputi hampir apa saja. Laut, tanah (agraria), negara, teknologi, ekonomi, juga ruang angkasa. Mulai dari orang sebagai individu hingga negara. Karena disana muncul hubungan yang perlu diatur. Artinya, orang-orang hukum dalam praktiknya bertanding dalam lapangan yang begitu luas. Meskipun jarang kita temui seorang ahli di semua bidang hukum a quo.

Dengan keharusan menyesuaikan diri dengan perkembangan. Pertanyaan yang perlu dijawab adalah kebutuhan apa yang perlu menjadi bekal dalam perjalanan panjang mengiringi  dan/atau menggiring berkembangnya peradaban. Hari ini kita dihadapkan pada penegak hukum yang kedapatan merobohkan hukum. Pelayan negara yang melayani nafsu pribadi. Atau pemimpin-pemimpin yang mengetuai perjalanan ke penjara. Barangkali filsafat perlu dilirik lagi. Philo Shophie yang secara harfiah berarti mencintai kebijaksanaan, seharusnya mengeluarkan kita dari peradaban yang superficial dan korup. Das Sein-nya, hukum dan orang-orangnya lah yang punya keharusan untuk bijak bestari berbudi mulia. Karena ia lah yang mengatur apa pun. Ia mengatur segala. Ia perlu bijak. Filsafat untuk hukum adalah conditio sine qua non.

Memang Hans Kelsen mengatakan hukum harus keluar dari anasir-anasir non yuridis. Namun, jangan lupa konteks saat membaca teks. Kelsen sedang berbicara penegakan hukum. Namun saat hukum itu dirumuskan ia perlu meliputi semua yang akan diaturnya –non yuridis. Apa lagi yang paling dekat dengan peran seperti ini jika bukan filsafat.

Dan kita adalah orang-orang yang mempelajari hukum. Dengan tujuan sendiri-sendiri. Sajian pilihan disana-sini. “Hidup” dari hukum atau “menghidupi” hukum?

Ilham Magribi

*Tulisan ini pernah dimuat di buletin Skeptikal Komunitas Payung UNDIP

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s