Nadia Lopez, Pendekatan Revolusioner Pendidikan, dan Apa yang Terjadi di Indonesia

I opened a school to close a prison,”

Sebuah pemikiran sederhana yang diungkapkan oleh Nadia Lopez pada Ted Talks: Education Revolution, yang mendorongnya untuk mendirikan dan membiayai Mott Hall Bridges Academy (MHBA) pada tahun 2010. Mengapa Lopez mesti menutup penjara? Sebab jeruji besi adalah rumah kedua bagi remaja Brownsville, Brooklyn, salah satu area dengan tingkat kriminalitas tertinggi dan daerah tertinggal di Kota New York. Mayoritas masyarakat Brownsville hidup di bawah garis kemiskinan dan mereka mencari nafkah dari kegiatan-kegiatan ilegal. Hal tersebut cukup mendeskripsikan kehidupan murid-murid di bawah naungan Kepala Sekolah Lopez.

Berawal dari wawancara Humans of New York (HONY) dengan salah seorang muridnya, Vidal Chastanet, pemikiran revolusioner Lopez menjadi pemberitaan viral di Amerika Serikat. Chastanet ditanya: “Siapa yang paling berpengaruh dalam hidupmu?”, ia menjawab:

“Kepala sekolahku, Ibu Lopez. Ketika kami melakukan kesalahan, beliau tidak menskors (menghukum) kami. Beliau memanggil kami ke kantornya dan menjelaskan bagaimana masyarakat di sekitar kita dilemahkan. Beliau berkata, setiap seorang anak tidak lulus sekolah, satu sel penjara dibangun (untuk melemahkan masyarakat). Suatu hari, beliau menggerakkan seluruh siswa untuk berdiri, di saat yang bersamaan, dan berkata masing-masing dari kami dipedulikan (oleh Lopez dan seluruh staf pengajar MHBA).”

tulisanpendidikan

Wawancara HONY bersama Vidal Chastanet yang dipublikasikan di akun Instagram @humansofny

 Pendekatan Revolusioner Lopez

Mengabdikan diri di lingkungan masyarakat yang keras seperti di Brownville bukan hal yang mudah bagi Lopez. Seluruh siswanya berasal dari keluarga miskin, 86% dari mereka memiliki nilai matematika dan bahasa Inggris di bawah rata-rata, dan 30% dari siswanya berkebutuhan khusus. Ditambah lagi, tidak sedikit murid-muridnya yang terlibat dalam tindak kriminal di daerah tersebut. Dilansir dari blackenterprise.com, Lopez sempat berpikir untuk mengakhiri karirnya di dunia pendidikan, sebab ia tidak pernah mengetahui apakah upayanya selama ini berdampak baik bagi anak-anak muridnya. Namun pada suatu waktu, perilaku anak-anak yang tidak sopan terhadap orang-orang tua dan orang-orang dewasa yang tidak memiliki ekspektasi tinggi terhadap anak-anak tersebut mengubah pandangannya 180 derajat dan mempertanyakan dirinya sendiri: “Bagaimana saya bisa belajar dari anak-anak ini? Apa yang dibutuhkan sekolah ini dari saya?” Konflik batin inilah yang kemudian mengantarkan Lopez kepada pendekatan revolusionernya dalam pendidikan; mendengarkan dan menunjukkan apa yang tidak diketahui oleh anak muridnya. Sesederhana itu?

Ketika berbicara dengan siswanya yang bermasalah, mereka dibanjiri amarah. Hal ini sangat berdampak kepada performa mereka dalam kegiatan belajar mengajar, nilai mereka stagnan dan para pengajar diabaikan. Namun Lopez tidak lantas ngomel atau menghukum mereka. Ibarat menggunakan pistol, ada alasan yang mendorong telunjuk untuk menarik pelatuknya hingga peluru bisa ditembakkan. Maka dari itu, Lopez “mendengarkan” dan menjadi teman bicara bagi anak-anak ini, untuk mendalami mengapa “telunjuk mereka menarik pelatuk” sampai akhirnya “peluru”-nya mencoreng etika, untuk membantu mengakhiri kegusaran mereka. Menurut Lopez, ia yakin bahwa pada dasarnya kemarahan dan ketidaksopanan bukan sifat utama yang melekat pada diri mereka. Cara demikian jauh lebih beradab daripada menendang mereka ke penjara dan memutus masa depan mereka, sebagaimana sudah menjadi kebiasaan masyarakat Brownsville. Ia selalu mengatakan bahwa seluruh muridnya penting, each one of them matters, ini tidak terlepas dari kondisi sosial Brownsville dan isu rasial yang terjadi di AS, yang dianggap mengesampingkan orang-orang kulit hitam. Di tengah masyarakat yang tidak memiliki ekspektasi terhadap anak-anak tersebut, Lopez dan para stafnya hadir sebagai orang-orang dewasa yang menaruh harapan pada mereka.

Lopez juga menyadari bahwa sehari-hari di luar sekolah, murid-muridnya menyaksikan kemunduran dalam peradaban akibat tindakan kekerasan dan kejahatan, seperti perkelahian antar geng, jual beli narkotika dan senjata api, atau perampokan. Menemukan tindakan ilegal tersebut sangat mudah di Brownsville, sebab komunitas tersebut tidak mengetahui cara lain untuk menghidupi diri mereka. Untuk menghindari murid-muridnya terjerumus atau terjebak di dalam lingkaran tersebut, ia memberikan terobosan, misalnya dengan mengadakan program enterpreneurship yang harus diikuti oleh murid kelas 7. Para murid juga dipertunjukkan acara Shark Tank, sebuah reality show di Amerika tentang kontestan calon pengusaha yang membuat presentasi bisnis di depan para panelis investor-investor “hiu” yang akan memilih untuk berinvestasi di bisnis mereka atau tidak, supaya murid-muridnya dapat memetik ide bisnis dan mempraktikkannya sendiri.

Selain itu, Lopez juga meyakinkan mereka bahwa mereka harus tetap berada di sekolah dan melanjutkan pendidikannya hingga ke jenjang yang lebih tinggi. Ia menunjukkan bahwa ada cara lain untuk menyokong hidup tanpa menjadi bagian dari sindikat kriminal. Untuk menanamkan keinginan tersebut, ia mengirimkan murid-muridnya untuk tur ke Harvard University, dengan biaya dari kampanye penggalangan dana setelah Chastanet terkenal lewat Instagram HONY. Dorongan tersebut terbukti menaikkan tekad dan kepercayaan diri scholars MHBA, sebutan Lopez untuk murid-muridnya.

Banyak sekali komentar-komentar menarik yang diberikan siswa-siswinya setelah mengunjungi kampus nomor 1 di Amerika tersebut. Misalnya, Jamal, murid kelas 6 MHBA, mengaku bersekolah di MHBA membuatnya yakin untuk menjadi orang pertama dari keluarganya yang menginjakkan kaki ke perguruan tinggi dan mengubah nasib keluarganya. Zion, murid kelas 8 yang tidak ragu lagi untuk bercita-cita belajar di fakultas kedokteran meskipun ia memiliki keterbatasan dana, sebab bisa dibiayai oleh beasiswa. Isaiah, murid kelas 8, yang dengan lantang berkata, “Aku akan terus bersekolah, menyelesaikan SMP, lanjut ke SMA, dan mendapatkan gelar sarjana arsitektur!”. Laura, murid kelas 7 yang semakin termotivasi, more than she did before, untuk belajar di perguruan tinggi karena di dalam benaknya telah tergambar hal-hal menarik yang bisa ia lakukan di sana. Untuk apa hal tersebut dilakukan? Secara sederhana, untuk memutus rantai ketidakberadaban yang tecermin dalam lingkungan Brownsville.

Memperlihatkan Batang Hidung

Merealisasikan mantra “mendengarkan” dan “menunjukkan apa yang tidak diketahui oleh para murid” tentu tidak dilakukan Lopez di belakang meja kerjanya. Nadia Lopez, Kepala Sekolah MHBA, blusukan. Untuk memenangkan hati anak-anaknya, fisiknya hadir di depan mereka.

“Saya tidak ingin menjadi seseorang yang dikatakan oleh murid-murid seperti ini, ‘Aku tidak pernah berbicara dengan kepala sekolahku. Aku tidak pernah melihat kepala sekolahku.’ Bagi saya, hal ini tidak bisa diterima, sebab sebagai seorang pemimpin, Anda harus memimpin, Anda harus memperlihatkan batang hidung Anda, yang membuat orang percaya kepada Anda adalah keberadaan Anda.”

Blusukan ala Lopez dilakukan dengan mengajar di kelas. Selain itu, ia juga “berjalan-jalan” menelusuri lorong sekolah. Ketika bertemu dengan murid-muridnya, ia sekadar bilang, “Sore ini mau ke mana?” atau “Jam 4 sore ada acara TV favoritmu, ‘The Ellen Show’. Jangan lupa nonton ya!” Selain itu, apabila mendapati muridnya bermasalah, ia menegur mereka, secara personal, membawanya ke suatu tempat di mana hanya terdapat mereka berdua saja dan mulai mendengarkan keluh-kesahnya. Selain percakapan, blusukan Lopez juga bisa berbentuk pelukan hangat untuk murid-muridnya.

Education Sets People Free

“Mendengarkan” dan “memperlihatkan” yang dilakukan oleh Lopez sesungguhnya adalah esensi pendidikan. Melalui kedua pendekatan tersebut, ia menempatkan sekolah sebagai rumah kedua untuk mengasah potensi dan menyempurnakan pribadi murid-muridnya, supaya di masa depan, mereka tidak berjalan beriringan dengan kekurangan-kekurangan tersebut. Apalagi, mengingat cerminan lingkungan Brownsville, tanpa Lopez mempertahankan anak-anaknya di dalam sekolah, mereka hanya akan terkekang menjadi budak ketidakberadaban. Pendidikan di sini juga hadir untuk melepaskan scholars MHBA dari rendahnya ekspektasi masyarakat terhadap mereka, di saat mereka mampu melampaui diri untuk menjadi apapun yang mereka cita-citakan, di saat mereka bisa berubah dan meninggalkan kesuraman di masa lalu mereka.

Keadaan di Indonesia juga menggambarkan kalau education sets people free, tetapi dalam makna yang berbeda. Pendidikan “membebaskan” anak-anak yang dianggap bandel – dari yang ikut tawuran sampai geng motor – dari buku absen guru. Pendidikan “membebaskan” anak-anak yang hamil di luar nikah dan tidak lagi perawan dari kegiatan belajar mengajar. Pendidikan “membebaskan” tangan guru-guru untuk melayangkan hukuman fisik bagi muridnya yang katanya tidak mau diatur. Berbicara mengenai pemberian hukuman fisik, tidak bisa dibayangkan berapa banyak murid MHBA yang badannya memar apabila Lopez memilih menjadi seorang yang ringan tangan, ketimbang ringan telinga.

Pribadi seperti apa yang sebetulnya ingin dilahirkan dari sistem pendidikan yang demikian? Apabila menilik fakta bahwa murid-murid yang dianggap bermasalah malah “dibebaskan”, berarti mayoritas sekolah di Indonesia hanya menginginkan murid yang sudah sempurna fisik, mental, dan akal budi untuk duduk di bangkunya. Juga, hanya siswa cerdas cemerlang yang berhak mengeyam masa depan gemilang. Lantas, buat apa sekolah dibangun untuk mencerdaskan kehidupan bangsa?

Belum banyak tenaga pendidik yang menyadari betapa pentingnya mempraktikkan apa yang selama ini diupayakan oleh Nadia Lopez. Kebanyakan tenaga pendidik hanya mendekatkan diri kepada siswa-siswi yang dianggapnya pintar, kalau yang bersangkutan dianggap nakal, yang perhatian cuma guru BK (Bimbingan Konseling). Namun demikian, apabila murid Indonesia boleh jujur, pemahaman akademik lebih banyak didapatkan di tempat bimbingan belajar. Maka dari itu, peraih nilai UN terbesar pasti adalah murid di bimbingan belajar tertentu. Terkadang guru-guru lupa kalau anak muridnya dibuat pintar oleh guru bimbel, bukan oleh dirinya. Terkadang guru-guru juga lupa kalau tugas mereka lebih dari mengajar, tetapi mendidik. Bagi saudara yang pintar, motivasi untuk melanjutkan pendidikan tinggi ke sana-sini rajin didengungkan oleh guru-guru. Akan tetapi, bagi siswa yang aktivitasnya tidak jauh-jauh dari ruangan BK, motivasi untuk pindah sekolah yang lebih mau menoleransi kekurangannya, lebih sering tertanam di telinga.

Mengingat Lopez adalah pimpinan tertinggi di sekolahnya, perlu disinggung juga mengenai keberadaan kepala sekolah dalam sistem pendidikan. Kepala sekolah di sini lebih banyak mengurus hal-hal yang bersifat administratif, misalnya perencanaan program, pelaksanaan rencana kerja, serta melaksanakan supervisi dan evaluasi, sebagaimana diamanahkan dalam Permendiknas Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Sekolah. Dengan tugas dan fungsi yang nyaris tidak bersentuhan dengan peserta didik, siswa-siswi tidak bisa berharap kepala sekolah di Indonesia bisa menjadi orang tua kedua layaknya Nadia Lopez. Dalam beberapa kasus, figur kepala sekolah pun bisa diposisikan layaknya lambang bendera merah putih di seragam anak sekolah masa kini, akibat kealpaannya. Berdasarkan pengalaman penulis, baik selama SMP maupun SMA, kepala sekolah hanya terlihat saat upacara bendera saja, itupun tidak selalu. Menyalami kepala sekolah saja bisa dihitung jari, apalagi dijamin bahwa yang bersangkutan dan segenap tenaga pendidik peduli akan masa depan siswa-siswi atau bahkan diingatkan nonton acara kesukaan di TV.

Mungkinkah pernyataan guru-guru penulis menggambarkan esensi kegiatan belajar mengajar di sekolah yang sesungguhnya? Misalnya, “Sekolah mah bukan untuk belajar, tapi untuk main. Kalau kalian mau belajar, di tempat bimbel (bimbingan belajar) aja,”? Atau “Tenang aja, sama saya mah nilai kalian pasti bagus. Kan yang penting gak remed(ial),”? Atau “Ada temen kalian anak geng motor, buat apa disekolahin di sekolah bagus kalau begitu,”? Atau “Kalian datang telat, sama aja seperti kriminal. Mau dikeluarkan dari sekolah ini?”? Jika memang esensi pendidikan di sini mendekati pernyataan tersebut, rasanya, “Tomorrow’s future is sitting in our classrooms, and they are our responsibility,” yang diucapkan oleh Lopez hanya bisa didengar di film Laskar Pelangi.

Violla Reininda
Dialektika Sofia

Referensi:

http://www.blackenterprise.com/career/meet-nadia-lopez-the-school-principle-changing-the-narrative-about-education/

http://www.businessinsider.co.id/principal-nadia-lopez-gave-a-speech-at-an-education-revolution-ted-talk-2015-11/#WYv7ZvXxBREcgjWV.97

http://www.theatlantic.com/video/index/385925/why-principals-matter/

https://www.youtube.com/watch?v=EdGOzGHx1pY&list=WL&index=16

https://www.youtube.com/watch?v=ZY-oxu1iIpg&list=WL&index=15

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s