My Stupid Boss: Habis Tawa Terbit Tanya

My Stupid Boss (2016)
Durasi: 108 menit
Sutradara: Upi Avianto
Penulis: Upi Avianto
Produksi: Falcon Pictures
Negara: Indonesia, Malaysia
Pemeran: Reza Rahadian, Bunga Citra Lestari, Alex Abbad, Ronny P. Tjandra, Kinwah  Chew, Atikah Suhaime, Iskandar Zulkarnain, Bront Palarae
Rating: Remaja (13+)

Setelah Ada Apa Dengan Cinta 2 (2016), jama’ah bioskop Indonesia kontemporer kembali dihibur dengan kehadiran film drama komedi terbaru, yakni My Stupid Boss. Selang empat hari tayang di layar-layar bioskop, My Stupid Boss mampu menarik minat 605 ribu mata untuk menonton. Menarik untuk dispekulasikan, apakah film ini dapat meraup jumlah penonton menyaingi AADC 2. . .?

1
Bossman (Reza Rahadian) dengan DIana/Kerani (Bunga Citra Lestari) Sumber: Panji Diksana (Liputan6.com)

My Stupid Boss merupakan film yang diadaptasi dari novel karya penulis (dengan nama samaran) chaos@work. Judul lengkap dari novel adalah My Stupid Boss: Impossible We Do! Miracle We Try! Bersakit-sakit di Gue, Bersenang-senang di Lo. Kurang lebih seperti Raditya Dika dalam  Kambing Jantan, novel karya chaos@work merupakan curhat pengalaman kerja penulis di Malaysia yang dibungkus komedi.

Pada kesempatan ini, saya akan mencoba mengulas film My Stupid Boss. Sebagai peringatan, pada ulasan ini saya akan memberikan bocoran-bocoran terkait film, bukan bermaksud seperti kawan-kawan Anda yang menggoda iman dengan memberikan bocoran Civil War ataupun  AADC 2, spoiler  yang saya sampaikan digunakan untuk memperjelas poin yang saya ajukan. Bagi Anda yang belum menonton, segera tutup kanal tulisan ini jika tidak ingin melihat spoiler. Namun, bagi Anda yang belum menonton dan ingin membandingan  ulasan  saya dengan  pengalaman yang Anda cerap saat menyaksikan film ini, silahkan lanjutkan membaca.

Continue reading “My Stupid Boss: Habis Tawa Terbit Tanya”

Pengantar Logika

Think
diambil dari album flickr Jason Devaun dibawah lisensi (CC BY-ND 2.0)

*Tulisan ini dibuat sebagai bahan pengantar dalam kegiatan diskusi Pengantar Logika Dialektika Sofia.

Perkataan “Logika” diturunkan dari kata sifat “Logike”,bahasa Yunani, yang berhubungan dengan kata benda “Logos” yang artinya pikiran atau kata sebagai pernyataan dari pikiran itu. Dalam bahasa sehari-hari, perkataan “Logika” dan “Logis” menunjuk pada cara berpikir atau cara hidup atau sikap hidup tertentu, yakni yang masuk akal, yang reasonable, yang wajar, yang beralasan atau berargumen, yang ada rasionya, atau hubungan rasionalnya, serta dapat dimengerti (walaupun cara tersebut belum tentu disetujui, benar, maupun salah).

Menurut D.F. Scheltens, logika dalam klasifikasi pengetahuan manusia berdasarkan aliran filsafat positivisme termasuk pada kelompok ilmu-ilmu Formal, yakni ilmu-ilmu yang mempelajari bentuk-bentuk dan pola-pola hubungna antar-pernyataan, dan tidak menghasilkan keputusan-keputusan atau proposisi tentang kenyataan. Dengan demikian, sebagai suatu pengetahuan (disiplin ilmu), logika memiliki objek studi, dimana kemudian terbagi lagi menjadi objek Material, berupa kegiatan berpikir (tapi bukan prosesnya),  dan objek formal, merupakan pola berpikir berupa struktur formal kombinasi-kombinasi pernyataan-pernyataan yang akan mengarah kepada kegiatan berpikir yang lurus, Straight Thinking or Correct Argument .

Terdapat beberapa istilah dalam Logika yang tentunya harus dipahami lebih dulu agar tidak menimbulkan kekeliruan kemudian, diantaranya adalah Berpikir, Penalaran, Premis dan Kesimpulan, Argumen atau Argumentasi, serta Validitas dan Kebenaran. Berpikir secara teknis, adalah proses rohani atau kegiatan akal budi yang berada dalam kerangka bertanya dan berusaha memperoleh jawaban, dimana kerangka bertanya ini akan muncul jika manusia dihadapkan kepada pertanyaan atau suatu masalah. Berdasarkan tujuannya, kegiatan berpikir itu terbagi menjadi dua, yaitu berpikir praktikal, berpikir yang diajukan untuk merubah keadaan atau situasi, dan berpikir teoritikal, berpikir yang diajukan untuk merubah pengetahuan. Continue reading “Pengantar Logika”

LGBT, Aa Gym, dan Pesan Awal Tahun

20150627_marriage_ss-slide-2NMH-jumbo.jpg
sumber gambar: www.nytimes.com

Natalie Thompson, perempuan berambut pirang digerai, mencium pipi Pooja Mandagre, perempuan berkulit sawo matang yang menunjukkan senyum sumringah ke lensa fotografer New York Times. Mereka larut dalam perayaan. Hari itu tanggal 26 Juni 2015, Mahkamah Agung Amerika Serikat mengeluarkan putusan bersejarah, bahwa pernikahan sesama jenis adalah hak. Tentu saja ini merupakan titik penting dalam debat panjang sekitar LGBT. Dalam negara hukum, putusan hukum tentu berdampak radikal.

Banyak dari kita tidak akan nyaman melihat cuplikan dalam potret tersebut. Tabu, atau mungkin menjijikkan jika anda seorang homophobic. Saya sendiri pernah di posisi itu. Besar dalam lingkungan yang setiap malam diisi dengan mengaji di mesjid kampung. Dan tak pernah bertemu langung dengan orang dengan orientasi seksual berbeda. Membantu saya untuk pernah bersikap demikian.

Tulisan ini tidak bermaksud ambil bagian dalam riuhnya celetuk yang terrekam di banyak media. Hanya akan ada satu tema, yaitu tentang pesan seorang tokoh publik kepada nalar kita. Continue reading “LGBT, Aa Gym, dan Pesan Awal Tahun”