Ganyang Supermarket: Epilog

1466157597880

Melihat geliat pergerakan wacana rumah makan, baik di media sosial ataupun di media massa, sesungguhnya kita perlu prihatin. Gegara provokasi media, kita menjadi terbelah. Sulit dimengerti, sikap sebagian orang Islam sendiri yang gampang tergiring, tersulut nafsunya dan dipecah-belah.

Gara-gara provokasi media pula, orang yang melanggar aturan pemerintah dan etika masyarakat setempat, mendapat dukungan luar biasa. Sedangkan orang yang taat aturan dan etika dihujat tidak toleran dan tidak menghormati pelanggar aturan.

Saudara-saudaraku, sesungguhnya konflik ini perlu kita segera tangani dan selesaikan.

Pertama, mari kita mulai dengan merangkul kembali saudara yang kita telah mampu menahan nafsu dengan taraf kesulitan seperti di luar Indonesia. Mereka yang berpuasa di Indonesia, namun mampu berpuasa layaknya mereka yang berpuasa di Eropa, Amerika dll. Mengapa perlu kita rangkul? Utlitarianisme, saudara-saudara.

Jeremy Bentham, pencetus aliran utilitarianisme, menyatakan bahwa pembentuk undang-undang hendaknya dapat melahirkan undang-undang yang dapat mencerminkan keadilan bagi semua individu. Dengan berpegang pada prinsip tersebut, perundangan itu hendaknya dapat memberikan kebahagiaan yang terbesar bagi sebagian besar masyarakat  (the greatest happiness for the greatest number).

Bilamana kita gagal merangkul kembali saudara-saudara kita yang taraf kesulitan menahan nafsunya telah berbeda dengan kita, maka syarat utama untuk mewujudkan utilitarianisme, yakni the greatest number, tidak akan terwujud. Tentu ini akan membuat kita yang taraf menahan nafsu level Indonesia tidak happy.Mari kita kumpulkan kembali the greatest number.

Continue reading

My Stupid Boss: Habis Tawa Terbit Tanya

My Stupid Boss (2016)
Durasi: 108 menit
Sutradara: Upi Avianto
Penulis: Upi Avianto
Produksi: Falcon Pictures
Negara: Indonesia, Malaysia
Pemeran: Reza Rahadian, Bunga Citra Lestari, Alex Abbad, Ronny P. Tjandra, Kinwah  Chew, Atikah Suhaime, Iskandar Zulkarnain, Bront Palarae
Rating: Remaja (13+)

Setelah Ada Apa Dengan Cinta 2 (2016), jama’ah bioskop Indonesia kontemporer kembali dihibur dengan kehadiran film drama komedi terbaru, yakni My Stupid Boss. Selang empat hari tayang di layar-layar bioskop, My Stupid Boss mampu menarik minat 605 ribu mata untuk menonton. Menarik untuk dispekulasikan, apakah film ini dapat meraup jumlah penonton menyaingi AADC 2. . .?

1

Bossman (Reza Rahadian) dengan DIana/Kerani (Bunga Citra Lestari) Sumber: Panji Diksana (Liputan6.com)

My Stupid Boss merupakan film yang diadaptasi dari novel karya penulis (dengan nama samaran) chaos@work. Judul lengkap dari novel adalah My Stupid Boss: Impossible We Do! Miracle We Try! Bersakit-sakit di Gue, Bersenang-senang di Lo. Kurang lebih seperti Raditya Dika dalam  Kambing Jantan, novel karya chaos@work merupakan curhat pengalaman kerja penulis di Malaysia yang dibungkus komedi.

Pada kesempatan ini, saya akan mencoba mengulas film My Stupid Boss. Sebagai peringatan, pada ulasan ini saya akan memberikan bocoran-bocoran terkait film, bukan bermaksud seperti kawan-kawan Anda yang menggoda iman dengan memberikan bocoran Civil War ataupun  AADC 2, spoiler  yang saya sampaikan digunakan untuk memperjelas poin yang saya ajukan. Bagi Anda yang belum menonton, segera tutup kanal tulisan ini jika tidak ingin melihat spoiler. Namun, bagi Anda yang belum menonton dan ingin membandingan  ulasan  saya dengan  pengalaman yang Anda cerap saat menyaksikan film ini, silahkan lanjutkan membaca.

Continue reading

Pengantar Logika

Think

diambil dari album flickr Jason Devaun dibawah lisensi (CC BY-ND 2.0)

*Tulisan ini dibuat sebagai bahan pengantar dalam kegiatan diskusi Pengantar Logika Dialektika Sofia.

Perkataan “Logika” diturunkan dari kata sifat “Logike”,bahasa Yunani, yang berhubungan dengan kata benda “Logos” yang artinya pikiran atau kata sebagai pernyataan dari pikiran itu. Dalam bahasa sehari-hari, perkataan “Logika” dan “Logis” menunjuk pada cara berpikir atau cara hidup atau sikap hidup tertentu, yakni yang masuk akal, yang reasonable, yang wajar, yang beralasan atau berargumen, yang ada rasionya, atau hubungan rasionalnya, serta dapat dimengerti (walaupun cara tersebut belum tentu disetujui, benar, maupun salah).

Menurut D.F. Scheltens, logika dalam klasifikasi pengetahuan manusia berdasarkan aliran filsafat positivisme termasuk pada kelompok ilmu-ilmu Formal, yakni ilmu-ilmu yang mempelajari bentuk-bentuk dan pola-pola hubungna antar-pernyataan, dan tidak menghasilkan keputusan-keputusan atau proposisi tentang kenyataan. Dengan demikian, sebagai suatu pengetahuan (disiplin ilmu), logika memiliki objek studi, dimana kemudian terbagi lagi menjadi objek Material, berupa kegiatan berpikir (tapi bukan prosesnya),  dan objek formal, merupakan pola berpikir berupa struktur formal kombinasi-kombinasi pernyataan-pernyataan yang akan mengarah kepada kegiatan berpikir yang lurus, Straight Thinking or Correct Argument .

Terdapat beberapa istilah dalam Logika yang tentunya harus dipahami lebih dulu agar tidak menimbulkan kekeliruan kemudian, diantaranya adalah Berpikir, Penalaran, Premis dan Kesimpulan, Argumen atau Argumentasi, serta Validitas dan Kebenaran. Berpikir secara teknis, adalah proses rohani atau kegiatan akal budi yang berada dalam kerangka bertanya dan berusaha memperoleh jawaban, dimana kerangka bertanya ini akan muncul jika manusia dihadapkan kepada pertanyaan atau suatu masalah. Berdasarkan tujuannya, kegiatan berpikir itu terbagi menjadi dua, yaitu berpikir praktikal, berpikir yang diajukan untuk merubah keadaan atau situasi, dan berpikir teoritikal, berpikir yang diajukan untuk merubah pengetahuan. Continue reading