Liputan Seminar IPT65

1965
sumber ilustrasi: insideindonesia.org/the-killings-of-1965-66

Anger may be defined as an impulse, accompanied by pain, to a conspicuous revenge for a conspicuous slight directed without justification towards what concerns oneself or towards what concerns one’s friend. -Aristotle

Merujuk pada pengertian amarah menurut Aristoteles, Martha Nussbaum menyimpulkan bahwa amarah terbentuk dari tiga hal. Pertama, kita berpikir bahwa kita mendapat perlakuan yang salah. Kedua, perlakuan tersebut membawa akibat yang menyakitkan. Ketiga, akibat perlakuan tersebut berdampak pada seseorang atau sesuatu yang kita sayangi.

Aristoteles pun membuat tiga hal penting mengenai amarah, sebagaimana yang ditulisnya dalam Etika Nicomanchean. Pertama, kemarahan harus disalurkan pada subjek yang tepat. Kedua, tujuan pelampiasan amarah adalah untuk membalas rasa sakit yang kita terima. Ketiga, kemarahan dapat menjadi membabi buta, tapi apabila seseorang tidak marah pada subjek yang tepat, pada kadar yang sesuai, dan pada waktu yang layak, maka orang tersebut dapat dikatakan bodoh.

“Seminar Pengungkapan Kebenaran&Jalan Berkeadilan Bagi Penyintas” yang diadakan pada 31 Maret 2017 di Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan, merupakan sebuah ekspresi marah. Kemarahan para mantan anggota PKI dan simpatisannya, termasuk juga pendukung setia Sukarno, aktivis buruh dan guru, yang menjadi korban kekerasan dan kesewenang-wenangan saat dan setelah 30 September 1965. Kekerasan dan kesewenang-wenangan ini menurut Putusan Pengadilan Rakyat Internasional 1965 berupa tindakan pembunuhan massal, pemenjaraan, perbudakan (kerja paksa), penyiksaan, penghilangan paksa, kekerasan seksual, pengasingan dan pemusnahan (genocide) terhadap kelompok nasional.

Melalui seminar ini, para korban –dan yang berempati pada mereka, memiliki tujuan untuk menunjukkan perlakuan tidak manusiawi apa yang telah mereka terima dan rasa sakit fisik serta mental akibat dari perlakuan tak manusiawi yang mereka terima. Seminar ini juga diadakan agar emosi marah para korban disalurkan pada subjek yang tepat, kadar marah yang sesuai, dan waktu yang layak.

Sebelum berlanjut, perlu kita perhatikan bahwa acara ini merupakan acara yang  berlangsung di perguruan tinggi dan membahas kejadian serta korban 1965 yang melawan narasi resmi negara. Dalam tataran ide, hal ini bukanlah hal yang mustahil, sebab perguruan tinggi merupakan tempat yang berlandaskan pada pola pikir keilmuan. Namun, pada tingkat praktik, hal ini menjadi cenderung mustahil, sebab acara diskusi dengan tema seperti ini rawan untuk mengalami pembubaran. Terlintas sebuah pertanyaan, “Mengapa Unpar mampu mengadakan acara ini? Bahkan hingga rektor dan dekan fakultas hukumnya datang dan memberikan sambutan. Apakah karena Unpar secara keuangan tidak terlalu bergantung pada anggran negara?” Apapun jawaban dari pertanyaan ini, Unpar tetap perlu mendapat apresiasi karena berhasil melangsungkan seminar ini. Continue reading “Liputan Seminar IPT65”