Pemisahan Toilet, Sebuah Kajian Tidak Serius

Post  Line Gemma N:
Bagimu yang menulis coretan dikertas ini,
Beberapa hari lalu saya sempat terkaget-kaget melihat coretan di kertas plang larangan penggunaan kamar mandi oleh mahasiswa di kamar mandi lantai 2 gedung 4. 2 kalimat yang cukup menggelitik saya khususnya sebagai mahasiswa yang sedang belajar ilmu hukum yaitu :
“Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”
“sama rata dong”
Saudaraku, sepanjang saya menerima perkuliahan di Fakultas Hukum, konsep keadilan itu tidak sama dengan sama rata. Begitupun konsep keadilan Pancasila.Apabila teman-teman pelajari konsep Keadilan Aristoteles yaitu :“justice consists in treating equals equally and unequalls unequally, in proportion to their inequality.” Untuk hal-hal yang sama diperlakukan secara sama, dan yang tidak sama juga diperlakukan tidak sama, secara proporsional.” Kemudian dalam putusan kasus Plessy v. Ferguson serta putusan kasus Brown disitu disebutkan juga bahwa keadilan tidak sama dengan sama rata. Jadi pada dasarnya sah-sah saja ada pelarangan itu, toh kita mendapatkan fasilitas kamar mandi di lantai 1,3 & 4. Kalaupun mau dipersoalkan, persoalkanlah masalah kualiatas perawatan antara kamar mandi dosen dan mahasiswa. Semoga kita semua dapat berkomentar dengan baik. Sebelum asal tulis atau asal bunyi.
Selamat istirahat siang 🙂

Pertama, kita perlu sama-sama percaya bahwa yang kami tulis ini sama sekali tidak penting. Tapi memang itulah kegemaran kami. Memikirkan yang remeh-temeh dan barangkali tidak penting. Jauh dari tulisan ilmiah yang dibangun atas konstruksi berpikir yang metodis dan bermodalkan pikiran kritis. Sekali lagi, ini jauh dari itu. Tetapi kalau kalian setuju, mari kita buang waktu sama-sama untuk tulisan yang tidak penting dan remeh ini.

Bermula dari ­postingan kawan kami Gemma Noor di Line tentang seorang yang menuliskan “keadilan sosial” pada medium pemberitahuan “Toilet Khusus Dosen dan Pegawai”. Berikut buktinya: Continue reading “Pemisahan Toilet, Sebuah Kajian Tidak Serius”