Ganyang Supermarket: Epilog

1466157597880

Melihat geliat pergerakan wacana rumah makan, baik di media sosial ataupun di media massa, sesungguhnya kita perlu prihatin. Gegara provokasi media, kita menjadi terbelah. Sulit dimengerti, sikap sebagian orang Islam sendiri yang gampang tergiring, tersulut nafsunya dan dipecah-belah.

Gara-gara provokasi media pula, orang yang melanggar aturan pemerintah dan etika masyarakat setempat, mendapat dukungan luar biasa. Sedangkan orang yang taat aturan dan etika dihujat tidak toleran dan tidak menghormati pelanggar aturan.

Saudara-saudaraku, sesungguhnya konflik ini perlu kita segera tangani dan selesaikan.

Pertama, mari kita mulai dengan merangkul kembali saudara yang kita telah mampu menahan nafsu dengan taraf kesulitan seperti di luar Indonesia. Mereka yang berpuasa di Indonesia, namun mampu berpuasa layaknya mereka yang berpuasa di Eropa, Amerika dll. Mengapa perlu kita rangkul? Utlitarianisme, saudara-saudara.

Jeremy Bentham, pencetus aliran utilitarianisme, menyatakan bahwa pembentuk undang-undang hendaknya dapat melahirkan undang-undang yang dapat mencerminkan keadilan bagi semua individu. Dengan berpegang pada prinsip tersebut, perundangan itu hendaknya dapat memberikan kebahagiaan yang terbesar bagi sebagian besar masyarakat  (the greatest happiness for the greatest number).

Bilamana kita gagal merangkul kembali saudara-saudara kita yang taraf kesulitan menahan nafsunya telah berbeda dengan kita, maka syarat utama untuk mewujudkan utilitarianisme, yakni the greatest number, tidak akan terwujud. Tentu ini akan membuat kita yang taraf menahan nafsu level Indonesia tidak happy.Mari kita kumpulkan kembali the greatest number.

Continue reading “Ganyang Supermarket: Epilog”